All for Joomla All for Webmasters
Featured

Dua Pemuda ‘Kontroversial’ Asal Binjai Sumut Ini Jadi Trending Topic Indonesia

baguskali.com

Dua orang asal Binjai yang saat ini menjadi Trending Topic baik itu di Sosial Media maupun di forum-forum diskusi.
Walau kemunculan mereka banyak Pro & Kontra tapi setidaknya mengangkat Nama Kota Binjai.

Mereka adalah Jonru,seorang penulis.
Dan Hartoyo seorang Aktivis LGBT,kita akan bahas mereka satu persatu.

JONRU

Bernama asli Jonriah Ukur Ginting kelahiran Kabanjahe 7 desember 1970,adalah seorang penulis dan Owner di dapurkita.com,dan mempunyai ‘Likers’ hampir 1juta orang.
Jonru alumni SMA 2 Binjai angkatan 90,rumah orang tuanya di Prumnas Cengkeh Turi Binjai,lebih dikenal dengan sebutan kede wak Lakonta,seperti kata seorang Netizen….”dulunya seorang pemalu dan jarang bergaul,dengan kacamata lebarnya kalau berjalan selalu menunduk kebawah,seperti memikirkan sesuatu atau banyak masalah…”

Di Media Sosial Jonru lebih dikenal sebagai Anti Jokowi walaupun dia sendiri membantahnya,momen Pilpres membawa berkah menjadi populer karena komentarnya tentang Jokowi.
Tapi disisi lain bagi sebagian Netizen,jonru dianggap mewakili suara hati mereka akan ketidakpuasan akan pemerintahan Jokowi,makanya tak heran di FP nya kita melihat komentar para likers nya menumpahkan semua kesalahan pada jokowi.

Tapi apapun pendapat orang tentang Jonru setidaknya dia telah mengangkat nama Kota Binjai,dan pada setiap kesempatan dia selalu menyebut Binjai adalah sebuah Kota yang indah tempat dia besarkan.

HARTOYO

Kalau melihat sosok yg satu ini pasti banyak orang yg ‘gregetan.
Asli putra Binjai kelahiran thn 1976 dulunya bertempat tinggal di tandam pasr 4 dekat warung Mbak Nur.
Alumni SMPN 3 angkatan 91.
Adalah seorang aktivis LGBT,namanya semakin mencuat saat muncul diacara ILC di TV One dlm diskusi soal LGBT.
Sejak SD kls IV sdh merasa ada keanehan pada dirinya terutama soal ketertarikannya pada sesama jenis dan saat SMP ‘rasa’ itu semakin kuat.

“Pada 21 Januari 2007, ia dan kekasih prianya disiksa secara biadab oleh aparat keamanan. Polisi di Aceh menangkapnya dengan alasan mereka gay. Sebelum diseret ke kantor polisi, Hartoyo dan kawan prianya dihina, dicerca, dimaki dan bahkan dipukuli dan ditelanjangi di depan warga.

Ketika dibawa ke kantor polisi Sektor Bandar Raya, Banda Aceh, semula Hartoto merasa lega dan berharap mendapatkan perlindungan yang semestinya dari aparat keamanan. Namun yang terjadi jauh dari dugaan. Di kantor polisi, Hartoyo justru mendapat siksaan lebih kejam. Selama kurang lebih dua jam, ia dan pasangannya kembali dipaksa bertelanjang dan disemprot air dari selang. “Kami juga dipaksa melakukan adegan persetubuhan dengan disaksikan sejumlah polisi yang menodongkan senjata,” ujar Hartoyo dengan nada pahit.

Hartoyo tak terima dengan kebiadaban ini. Ia mengadukan kekerasan ini ke Komnas HAM, dan melayangkan surat-surat berisi kronologis penyiksaan ke sejumlah media. Namun perjuangannya menuntut keadilan tampaknya bukan hal mudah. Polisi memintanya tidak memperpanjang kasus itu.

“Polisi menganggap apa yang saya lakukan dengan menyebarkan kronologi kepada media sebagai hal yang berlebihan,” kisah Hartoyo.

Sadar bahwa perjuangannya di Aceh akan mengalami jalan buntu, dengan dibantu sesama aktivis, Hartoyo pun hijrah ke Jakarta. Penyiksaan di Aceh mengubahnya menjadi seorang pejuang hak-hak kelompok homoseksual di Indonesia”.

Untuk itu dia membentuk LSM SuaraKita….atau yg dikenal orang sebagai Organisasi LGBT.
Dia berharap LSM itu bisa mengedukasi masyarakat apa itu LGBT.
Juga sebagai upaya utk melindungi para LGBT dari tindakan diskriminasi.

Komentar Anda

Most Popular

To Top