All for Joomla All for Webmasters
Featured

“Lysistrata” Ala Teater Enceng Gondok Akan Guncang Medan

baguskali.com

Tidak dapat dipungkiri bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Seni merupakan salah satu kebutuhan batiniah manusia yang harus dipenuhi demi keselarasan jasmani dan rohani. Terkadang rutinitas yang padat dan membosankan dapat menjadi momok bagi seseorang jika tidak diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan batiniah. Pentingnya pemenuhan kebutuhan rohani dalam kepribadian seseoranglah menjadi dasar siswa-siswi SMAN 4 Medan yang peduli akan perkembangan kesenian tergerak untuk membuat pertunjukan-pertunjukan seni dengan harapan terciptanya suatu wadah resmi yang mampu menampung minat, bakat, dan apresiasi seni siswa. Sebelum Teater Enceng Gondok terbentuk, apresiasi dan kreasi seni siswa-siswi SMAN 4  Medan kurang tersalurkan. Pada saat itu, kelompok-kelompok seni terbentuk karena proses latihan menuju suatu pertunjukan seni saja. Namun, lambat laun kelompok-kelompok seni tersebut membentuk paguyuban yang mementingkan sikap kerja sama dan tenggang rasa sebagai tolak ukur kesuksesan dalam suatu pementasan.

Pemikiran tentang dibentuknya wadah resmi teater dalam program kerja OSIS dicetuskan oleh Vriske Rusniko yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Seksi Persepsi Apresiasi dan Kreasi Seni OSIS SMAN 4 Medan 2004-2005. Vriske menegaskan, pembentukan teater merupakan salah satu bukti kepedulian OSIS SMAN 4 Medan sebagai wadah aspirasi siswa-siswi terhadap kesenian. Meskipun paguyuban-paguyuban seni sudah mulai terbentuk selama +empat tahun sebelumnya, pembentukan ekstrakurikuler teater cukup mendapat sambutan positif dari siswa-siswi SMAN 4 Medan. Setelah melewati proses yang cukup lama dari mulai publikasi, permohonan guru pembimbing, pengajuan proposal, dan pencarian pelatih atau instruktur yang handal, maka pada tanggal 9 Januari 2005 Teater Enceng Gondok SMAN 4 Medan lahir ke dunia perteateran sekolah yang tengah semarak-semaraknya di kota Medan.

Diketuai oleh Hilna Khairunisa Shaliha, didampingi oleh wakilnya Rully Satriawan, bersama pengurus inti lainnya seperti Rizki Wulandhani dan Dara Rizki Amanda yang menjabat sebagai sekretaris dan bendahara, mereka mengintegritaskan pemikiran, kemampuan, dan kepentingan demi mencapai keeksisan dalam dunia teater. Usaha ini dibimbing oleh Ibunda Dra. Sri Kartini yang merupakan Guru Bahasa Indonesia SMAN 4 Medan yang gandrung dalam berbagai hal yang berhubungan dengan kesenian. Dalam perjalanannya yang masih seumur jagung, Kakanda Ronald Tarakindo, S.Pd., Haykal Abimayu, S.S., dan Heri Andika Nasution, S.Pd., selaku pelatih banyak memberikan saran-saran yang berguna sehingga membawa Teater Enceng Gondok SMAN 4 Medan selalu unjuk gigi di dunia perteateran sekolah kota Medan dengan tetap mengutamakan sikap tenggang rasa, gotong royong, dan kekeluargaan.

Di pertengahan 2013, setelah terhantam badai yang sempat membuat oleng nahkodanya, Teater Enceng Gondok SMAN 4 Medan kembali mengumpulkan energinya untuk mewujudkan pementasan tunggal yang keenam. Kini di Teater Enceng Gondok SMAN 4 Medan hadir sederetan nama-nama baru yang entah kenapa ikut nimbrung latihan, berdiskusi, dan memikirkan kelangsungan serta eksistensi Teater Enceng Gondok SMAN 4 Medan di dunia perteateran kota Medan. Proses latihan kembali bergulir dipimpin pelatih teater pelajar kawakan kota Medan, yaitu Ronald Tarakindo, Haykal Abimayu, dan Heri Andika dibantu beberapa teman satu almamaternya sewaktu kuliah di Universitas Negeri Medan, sebut saja mereka Aulia, Fitra, Qori, Rusdi, Maman, Ardian, Adi BUKOPIN, dan Febri.

Energi kami terus menyodok seperti larva gunung merapi. Sebuah kerinduan untuk melakukan gagasan yang terpendam akan mereka presentasikan dalam sebuah gagasan panggung teater dengan menampilkan pementasan tunggal teater pelajar membawakan naskah Kontroversi Hati Malin Kumbang karya adaptasi Ronald Tarakindo. Alhamdulillah akhirnya pementasan tunggal tersebut sukses dilaksanakan di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara. Sudah pasti tidak segampang membalikan telapak tangan, dan hal yang paling terpenting adalah semangat untuk melakukan sesuatu yang berarti. Itu kami yakini bahwa letupan ini menjadi sebuah proses pembelajaran bagi kami dalam segala hal. Kami yakini pula pementasan tunggal semacam ini sudah sekian banyak kelompok teater telah melakukannya dengan baik. Pementasan tunggal tersebut juga bukan sesuatu yang baru, tapi kami juga punya gaya tersendiri untuk mementaskannya. Tentu sebagai sebuah sikap kami akan terus belajar dari kekurangan yang telah kami lakukan sebelumnya. Oleh karena itu, kami tidak mau terlena dengan kesuksesan masa lalu. Awal november 2014 kami memulai proses latihan lagi untuk mewujudkan pementasan tunggal ketujuh, membawa naskah Maling Menuntut Keadilan karya Vredy Kasta Martha.

Proses kreativitas kami tak berhenti sampai di situ, awal Desember 2015 kami mulai latihan untuk proses pementasan tunggal kedelapan, membawa naskah Lysistrata, karya Aristhopanes. Selalu saja pementasan tunggal sebelumnya menjadi standar acuan untuk memberikan karya yang lebih baik lagi bagi penonton setia kami. Rintangan akan selalu ada karena itu adalah bagian dari warna hidup kami sebagai pelajar sekolah menengah atas sebagai generasi penerus bangsa. Kami sadar, tuntutan untuk memberikan pementasan tunggal terbaik adalah bagian dari proses pendewasaan kami. Insyaa Allah kami mampu melakukan yang terbaik. Aamiin. Pantang Menyerah Itu Kita. Pementasan tunggal kedelapan ini akan ditampilkan pada 26 Maret 2016, pukul 15.30 dan 19.30  di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan

Lysistrata merupakan naskah teater kuno yang ditulis filsuf terkenal Aristophanes. Naskah ini bercerita tentang perlawanan perempuan terhadap perang yang dilakukan lelaki. Dalam naskah ini diceritakan bagaimana para perempuan melawan kekerasan dengan kelembutan, bagaimana mereka memprotes suami-suami yang tidak mengacuhkan mereka selama masa perang dengan melakukan pemogokan asmara (menolak berhubungan seks). Para wanita yang dipimpin Lysistrata berusaha keras menggagalkan perang antara Sparta dengan Athena bertujuan membuat perdamaian . Para prajurit pria yang dipimpin Walikota juga berusaha keras membujuk para wanita untuk tidak mengikuti ajakan Lysistrata dalam melakukan pemogokan asmara. Keadaan di Athena dan Sparta menjadi kacau, para wanita tetap melakukan pemogokan asmara dengan tujuan memberikan shock therapy kepada para suami mereka. Apakah perjuangan para wanita akan berhasil? Naskah ini diadaptasi sutradara Ronald Tarakindo dengan gaya Komedi Farce, yaitu cerita lucu yang bersifat dagelan atau sindiran-sindiran kemanusiaan, dengan sengaja menciptakan kreatifitas drama melalui kelucuan-
kelucuan yang tervisualkan dari dialog dan gerak laku lucu para pemerannya.

Komentar Anda

Most Popular

To Top