All for Joomla All for Webmasters
Featured

Ketika 2 Muslim Indonesia Berprestasi Dunia, Alhamdulillah

baguskali.com

Beberapa waktu lalu postingan membandingkan antara Ryo Haryanto dengan Musa La Ode Abu Hanafi berseliweran di dunia maya. Ini sangat disayangkan karena keduanya merupakan remaja muslim yang berprestasi. Ini merupakan perbuatan orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan ingin membenturkan umat Islam itu sendiri.

Ryo Haryanto itu Muslim, Sholat 5 waktu, & juga melaksanakan beberapa ibadah Sunnah menurut kesaksian krunya. Jadi harga dirinya masih haram untuk dijatuhkan & masih wajib bagi kita menyertakannya dalam do’a kita.

Meski ia tak sebaik Dik Musa (hafizhahullaah) yang mendapat juara 3 tingkat dunia Hafizh kecil, tapi usahanya untuk berprestasi itu pantas untuk diapresiasi.

Dunia Balap memang dunia persaingan materi, dan modalnya pun butuh materi dalam jumlah besar.

Membandingkan lajur seorang Hafizh Qur’an dengan Pembalap menurut saya bukan hal yang fair, keduanya jelas berbeda dari berbagai segi. Dan haram jika tendensinya adalah merendahkan salah satunya, karena keduanya masih Muslim.

Dua yang pasti. Keduanya adalah Muslim, dan sedang berjuang mewakili Muslim & Indonesia dalam ajang dunia. Barakallah..

Berikut biodata dan prestasi kedua anak muslim tersebut

Rio Haryanto (lahir di Solo, Jawa Tengah, 22 Januari 1993; umur 23 tahun) merupakan seorang pebalap berkebangsaan Indonesia yang kini membalap di ajang Formula Satu bersama tim Manor Racing. Sebagai pebalap asal Indonesia pertama yang bisa membalap di level Seri GP2, Rio memiliki basis pendukung yang sangat besar. Rio juga adalah pembalap Indonesia pertama dalam sejarah yang bisa menjajal mobilFormula Satu. Ia juga disebut sebagai salah satu pebalap muda yang berpotensi menjadi wakil Asia di ajang Formula Satu pada masa depan.

Pada tahun 2011, Rio berpartisipasi di ajang Seri GP3 bersama tim Marussia Manor Racing dan di seri Auto GP bersama tim Driot-Arnoux Motorsport (DAMS). Dia mengawali kariernya di balap gokart pada tahun 2002 dengan Juara Nasional Gokart kelas kadet.

Rio membalap pertama kali di seri ini pada 2012 bersama Carlin GP2 Team. Pada tahun itu juga, Rio juga berkesempatan untuk menjajal mobil F1 milik Marussia F1 Team sebanyak 79 lap ada sebuah uji coba pebalap muda F1 di Sirkuit Silverstone, Inggris. Hasil itu membawa Rio menjadi orang Indonesia pertama yang memenuhi syarat untuk mendapatkan FIA superlisence, merupakan syarat yang wajib dimiliki calon pebalap F1.

Pada tahun 2013, Rio memutuskan bergabung dengan Addax Team, namun sayangnya Rio mendapatkan hasil yang buruk dengan hanya mampu mendapat poin pada 4 balapan. Meskipun demikian, ia sempat meraih podium pertamanya dengan menempati peringkat 2 pada sprint race yang berlangsung di Silverstone, Inggris.

Kecewa akan performa mobil dan mekanik, Rio memutuskan pindah ke Caterham untuk musim 2014 setelah mencatatkan hasil yang memuaskan pada tes di Abu Dhabi. Ia berpasangan dengan Alexander Rossi dari Amerika Serikat.

Di musim 2015, dia bergabung dengan tim Campos Racing. Setelah mengambil podium ke 2 di Feature Race dalam seri Bahrain, Rio mengambil kemenangan pertama di GP2 pada Sprint Race keesokan harinya. Dia meraih kemenangan kedua dalam seri sprint race Austria meskipun sayap depan mobilnya telah rusak. Rio juga mendapatkan kesempatan untuk menjajal mobil F1 milik Manor pada sesi tes pascamusim yang diadakan Pirelli pada bulan Desember sebanyak 55 lap dengan catatan waktu terbaik 1:49.593 dan berada pada peringkat 15 dari 16 peserta.

Formula 1

Rio Haryanto berlaga di ajang Formula 1 atau Formula Satu membela Tim Manor Racing F1 di tahun 2016 setelah meraih hasil terbaiknya di GP2 pada tahun 2015 dengan menempati peringkat keempat.

Rio membutuhkan dana sebesar 15 juta Euro atau senilai Rp226 Miliar untuk dapat mengikuti kejuaraan F1 di bawah Tim Manor Racing. Sebelumnya, PT. Pertamina yang telah mensponsori Rio di ajang GP2, berjanji akan memberikan dana sebesar 5 juta Euro. Untuk melengkapi kebutuhan dana yang juga harus berkejaran dengan tenggat pelunasan ke Tim Manor Racing, Rio dan manajemennya telah meminta bantuan kepada pemerintah melalui Kemenpora serta berbagai pihak.

Setelah menanti keputusan panjang, pada tanggal 18 Februari 2016, Tim Manor Racing secara resmi mengumumkan Rio Haryanto menjadi pebalap kedua mereka yang akan mengikuti kejuaraan F1 musim 2016 menemani pebalap asal Jerman, Pascal Wehrlein selama satu musim penuh, setelah sempat merebak rumor akan adanya “bagi-bagi kursi” di antara tiga pebalap yang bersaing masuk ke tim Manor.

Ringkasan karier

  • 2002- Juara nasional Go-kart kelas kadet
  • 2005- Penghargaan IMI sebagai Atlet Gokart Junior Terbaik
  • 2008- Juara Nasional Go-kart
  • 2008- Formula Asia 2.0: ke-3, 121 poin
  • 2008- Formula Renault Asia: ke-6, 160 poin
  • 2009- Juara Formula BMW Pacific 2009
  • 2010- GP3 Series: ke-5, 27 poin
  • 2010- F1 Test, Virgin VR-01
  • 2015- GP2 Series: ke-5,132 poin
  • 2016- F1 Driver, Manor Racing Team

Pada tanggal 18 Februari 2016, Manor Racing selaku tim balap F1, resmi mengumumkan Rio Haryanto menjadi pebalapnya untuk musim 2016 mendampingi Pascal Wehrlein. Rio sekaligus menjadi pebalap Indonesia pertama yang berkiprah di ajang bergengsi tersebut.

Musa La Ode Abu Hanafi

Musa lebih dikenal dengan Musa Hafizh cilik (lahir di Bangka, 2008; umur 8 tahun) merupakan seorang penghafal Alquran (hafizh) dari Indonesia. Selain menghafal Alquran ia juga menghafalkan matan-matan hadis penting, seperti Arbain Nawawi dan lainnya. Namanya terkenal ke khalayak ramai baik di dalam negeri maupun di Malaysia dan Singapura setelah mengikuti dan meraih juara pertama pada program Hafiz Indonesia 2014 di RCTI.

Ia menjadi pusat perhatian karena meski kala itu berusia sangat muda yakni 5,5 tahun namun telah mampu menghafalkan 29 Juz dari total 30 Juz Alquran. Iapun dikirim untuk mengikuti perlombaan hafalan Alquran tingkat Internasional di Jeddah, Arab Saudi. Musa menjadi yang termuda dalam ajang tersebut dan menduduki peringkat ke-12 dari 25 peserta yang ikut bertanding. Musa mendapatkan nilai Mumtaz yakni 90,83 poin dari 100 nilai sempurna.

Pasca perlombaan Musa berhasil menuntaskan hafalannya menjadi keseluruhan 30 juz Alquran, hal ini dapat terlaksana karena sebelum mengikuti acara sebenarnya ia hanya kurang dua surah saja. Pada bulan Agustus 2014, Musa memperoleh piagam penghargaan tingkat nasional dari MURI sebagai Hafiz Al-Quran 30 Juz termuda di Indonesia. Dan Terakhir Juara 3 Musabaqah Hifzil Quran Internasional di Mesir.

Komentar Anda

Most Popular

To Top