All for Joomla All for Webmasters
Featured

Mengenang Hari Tanah Palestina, Bukti Sejarah Perampasan Tanah Palestina oleh Israel

baguskali.com

Masyarakat Palestina memperingati “Hari Tanah” pada tanggal 30 Maret setiap tahunnya, dimana pada tanggal yang sama 40 tahun silam, 6 warga Palestina gugur di tangan militer Israel saat mengikuti aksi protes terhadap tindakan perampasan tanah warga Palestina oleh otoritas Israel.

Saat itu, tahun 1967, otoritas Israel merampas ribuan hektar tanah tanah yang dimiliki secara legal oleh warga Palestina yang tidak mengungsi sejak pertempuran tahun 1948 M, atau dikenal dengan “penduduk Palestina 1948”.

Penduduk Palestina ’48 kemudian membalas aksi perampasan tersebut dengan melakukan aksi mogok kerja dan aksi gerak jalan massal yang meliputi seluruh wilayah Palestina ’48.

Bentrokan antara warga Palestina yang murka melawan militer Israel pun pecah. sedikitnya 6 warga Palestina gugur dan ratusan lainnya terluka dan ditangkapi.

Para pengamat menilai, hari Tanah sebagai peristiwa besar dalam rangkaian sejarah konflik antara warga Palestina dan Pemukim Israel serta hubungan warga Palestina yang tersisa di tanah Palestina ’48 dengan keberadaan Israel dimana aksi protes warga yang meletus pada tanggal 30 maret tersebut merupakan aksi protes nasional yang yang melibatkan massa dalam jumlah besar untuk pertama kalinya sejak masa pendudukan Israel, sebagai respon atas kebijakan rasis Israel terhadap penduduk asli Palestina.

Mayoritas penduduk asli Palestina saat itu berprofesi sebagai petani di perkebunan pribadi milik mereka dimana 75% warga Palestina, sebelum masa pendudukan Israel bermata pencaharian sebagai Petani.

Di kemudian hari, bertani tetap menjadi sumber mata pencaharian bagi 156.000 warga arab Palestina yang tidak meninggalkan tempat tinggal mereka dalam pertempuran tahun 1948. Mereka tetap tinggal di atas tanah tanah mereka yang saat itu sudah dikuasai oleh Israel.

Tanah adalah inti dari konflik perkepanjangan antara warga Palestina terjajah dengan para pemukim Israel sang penjajah.

Terkait dengan konflik tanah, Pemerintah Israel, pada tahun 1950 mengadopsi apa yang dinamakan dengan “Undang undang Kembali” yang memberikan hak imigrasi kepada warga Yahudi di seluruh dunia ke Israel dan menetap di sana. Untuk menarik minat para imigran Yahudi, otoritas Israel juga mengeluarkan “undang undang kepemilikan Absen” yang isinya membolehkan Yahudi pendatang untuk merampas tanah milik penduduk Palestina yang telah lari atau terusir pada tahun 1948.

Selain itu, undang udang kepemilikan absen tersebut juga digunakan untuk merampas tanah hak milik warga arab Palestina dimana telah mengungsi dari kampung halaman mereka ke wilayah lain masih berada di dalam teritorial Palestina. Jumlah pengungsi saat itu mencapai 20 % dari total warga Palestina yang tinggal di bawah pendudukan Israel. Peneliti Palestina, Salman Abu Sittah memperkirakan bahwa sejak tahun 1948 hingga tahun 2003 Masehi, Israel telah merampas lebih dari 1000 Kilometer persegi tanah Palestina hingga saat ini diakui oleh mereka sebagai tanah Israel.

Pentingnya peristiwa tanggal 30 Maretkemudian dijadikan peringatan “hari tanah Palestina” adalah karena aksi perlawanan warga Palestina tingkat nasional dan menyeluruh antara penduduk pribumi pemilik tanah yang sah melawan otoritas penjajah Israel untuk pertama kalinya meletus sejak tahun 1948 M. Peristiwa tersebut bertambah penting karena akar nya terikat dengan prinsip utama konflik kedua belah pihak, yaitu kepemilikan tanah merupakan inti dari permasalahan konflik Palestina – Israel hingga hari ini.

Menurut seorang peneliti Israel, Oren Yiftachel, aksi protes oleh penduduk Palestina 48 terhadap kebijakan dan keputusan otoritas Israel terhitung langka sebelum pertengahan tahun 1970 . Yiftachel menilai hal hal mendorong adanya aksi protes tersebut adalah diterapkannya hukum militer di wilayah mereka, kemiskinan, isolasi dan pengkotak kotakan.

Aksi protes terbesar yang lakukan oleh warga Palestina 48 terhadap Israel pada masa itu adalah aksi demo hari buruh tahunan yang diprakarsai  partai komunis aktif di wilayah Palestina yang diduduki oleh Israel tahun 1948 M.

Bersamaan dengan dikeluarkannya keputusan perampasan tanah milik warga Palestina ’48, pemerintah Israel juga memberlakukan jam malam di sejumlah kota di Palestina seperti, Jalil di utara Palestina yang mencakup wilayah Sakhneen, Aaraba, Deir Hana, Tar’an, Tamra dan Kabul, sejak pukul 5 sore tanggal 29 Maret 1976 M.

Dalam rangka merespon keputusan Israel, para petinggi Palestina yang aktif dalam partai komunis Israel saat itu menyeru kepada warga Palestina di wilayah pendudukan untuk melakukan aksi mogok masal dan protes terhadap keputusan perampasan tanah  milik warga Pribumi. Seruan menetapkan tanggal 30 Maret tahun 1976 sebagai hari pelaksanaan aksi protes tersebut.

Sebagai seruan balasam, sejumlah protes pun mulai dengan aksi gerak jalan massal warga Palestina yang dimulai dari bangunan balai kota Syafa Amru, di Jalil. Pasukan militer Israel segera membubarkan aksi demo tersebut dengan menggunakan gas air mata. Pemerintah Israel mengumumkan bahwa seluruh aksi demo tersebut ilegal dan melanggar undang undang serta mengancam akan menembaki para demonstran.  Mereka juga mengancam akan menindak tegas para demonstran dan para guru yang menghasut  siswa mereka untuk ikut serta dalam aksi demo dan mogok masal. Para siswa Palestina tetap keluar dan mengikuti aksi unjuk rasa dan mogok masal yang berlangsung di seluruh wilayah palestina dari ujung utara hingga ujung selatan Palestina meskipun mendapat ancaman serius dari Pihak Israel.

Diwaktu bersamaan, warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat serta pengungsi Palestina di Libanon bersama melakukan aksi sebagai dukungan terhadap saudara saudara mereka di tanah Palestina ’48.

Pemerintah Israel benar benar melaksanakan ancamannya terhadap para demonstran dengan menembaki mereka dan membbunuh 6 warga Palestina serta melukai dan menangkap ratusan lainnya.

Saat iyu militer Israel mulai melakukan aksi pembubaran paksa secara brutal dengan menyerang massa unjuk rasa yang tanggal 30 Maret di Kota Deir hana. Aksi penyerangan militer Israel berlanjut ke seluruh kota dan desa ikut melakukan aksi unjuk rasa dengan menggunakan bom gas air mata dan senjata api hingga menewaskan seorang pemuda bernama Khair Yasin, merupakan syahid pertama pada hari tanah Palestina.

Aksi brutal militer Israel saat membubarkan masa Palestina tidak menghentikan aksi unjuk rasa. Pagi hari setelahnya, ditengah tengah peraturan larangan keluar rumah, warga Palestina di desa Kfar kuna keluar untuk melanjutkan aksi unjuk rasa. Dalam aksi itu, syahid kedua hari tanah pun gugur, seorang pria bernama Muhsin Taha menjemput Syahidnya saat tembakan militer Israel tepat menembus kepalanya.

Di hari yang sama, warga desa Sakhneen juga melakukan aksi serupa berbuntut pecahnya bentrokan melawan militer dan kepolisian Israel. Bentrokan menyebabkan gugurnya 3 warga Palestina; Khadijah Syawahna, Raja Raya dan khadr Khalila.

Masih dihari yang sama, militer Israel menyerbu masa unjuk rasa di desa Tayyiba dan meneybabkan gugurnya syahid ke-6, Ra’fat Azzuhairi.

Hingga hari ini, setiap tahunnya warga Palestina memperingati hari tanah sebagai hari nasional untuk menegaskan bahwa hak kepemilikan tanah adalah legal, dimana kini 85% nya telah rampas oleh Israel.

Warga Palestina memperingati hari Tanah dengan melakukan aksi gerak jalan masal di Tepi Barat dan Jalur Gaza, melakukan aksi mogok masal dan mengadakan sejumlah seminar. Bentuk peringatan lainnya yang terjadi pada hari bumi adalah aksi bentrokan antara warga Palestina melawan militer Israel dan pecah di sejumlah wilayah rawan bentrokan.

Para pemukim Yahudi meyakini bahwa “orang tua Palestina akan mati dan anak anak mereka akan melupakan hak legal mereka di Palestina..”, namun kenyataannya adalah “orang orang tua Palestina mewarisi kepercayaan dan keyakinan mereka kepada anak dan cucu akan hak kepemilikan legal seluruh tanah Palestina”.

Anak dan cucu Palestina pun menterjemahkan keyakinan ini dengan melanjutkan perjuangan dan perlawanan atas Israel tidak pernah berhenti sejak munculnya benalu bernama Israel tahun 1948 M silam.

Dan seperti itulah angan angan Israel meyakini “orang orang tua Palestina mati dan anak anak mereka akan lupakan hak mereka ” pun lenyap.

Komentar Anda

Most Popular

To Top