All for Joomla All for Webmasters
Featured

Pro Kontra MUI & Ulama Soal Sholat Tarawih Super Cepat di Blitar

baguskali.com

Salah satu rukun shalat terpenting adalahtuma’ninah (tenang dan tidak tergesa-gesa, red). Sebab tuma’ninah merupakan salah satu rukun shalat yang harus dikerjakan agar shalatnya menjadi sah.

Pernyataan Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. Dr. Hasanudin AF, MA, menanggapi shalat tarawih tercepat sebanyak 20 rakaat dengan witir 3 rakaat dalam waktu 7 menit di pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udawanu, Blitar yang menjadi pembicaraan publik.

“Tuma’ninah itu rukun dalam shalat, jika di dalam shalat tarawih tersebut tidak terdapat rukun (tuma’ninah, red), berarti shalatnya tidak sah,” kata Hasanudin.

Hasanudin menambahkan dalam membacakan surat al-Fatihah dan surat pendek lainnya di dalam shalat juga harus dibacakan dengan tartil. Dalam al-Qur’an sendiri, lanjutnya, menyatakan bahwa “bacalah al-Qur’an dengan tartil”, artinya tajwid dengan panjang pendek bacaan harus benar.

“Kita harus meperhatikan juga seperti apa bacaan al-Fatihahnya. Sebab, al-Fatihah itu kan salah satu surat di dalam al-Qur’an, sementara al-Qur’an menyatakan “bacalah al-Qur’an itu secara tartil”, yaitu tajwid dan panjang pendeknya harus dibaca benar. Karena itu pedomannya dan jika menyalahi itu berarti sudah melenceng,” papar Hasanudin.

Jadi, menurut Hasanuddin, di dalam shalat itu harus memenuhi rukun shalat seperti tuma’ninah, dan ketika membacakan surat al-Fatihah (surat-surat al-Qur’an,red) juga harus tartil. Mereka (jama’ah shalat tarawih yang tercepat,red), harus memperhatikan hal-hal itu.

“Jika dua unsur itu saja, tidak terdapat dalam shalat tarawih yang tercepat itu, maka shalatnya tidak sah, tetapi meski shalat tarawihnya cepat jika tuma’ninah ada, dan ketartilannya benar berarti shalat tarawihnya sah,” kata Hasanudin.

Terkait dengan menyingkat bacaan saat ruku’, sujud, dan lainnya, menurut Hasanudin itu termasuk sunnah shalat. Sementara, perbuatan ruku’, sujud, duduk tahiyatnya, berdirinya (i’tidal,red) dan lain sebagainya itu termasuk rukun shalat yang wajib dikerjakan.

“Rukun shalat itulah yang harus dilaksanakan, bagaimana ruku’nya, sujudnya, duduk tahiyatnya dan berdirinya. Kalau bacaan dalam ruku’, sujud dan seterusnya itu termasuk sunnah shalat. Jadi tidak membaca doa sekalipun ketika ruku’ dan sujud, tetap sah shalatnya. sebab yang harus dikerjakan adalah rukun shalat seperti perbuatan ruku’, sujud dan seterusnya itu,” pungkas Hasanudin.*

Baca Allah.. Allah..

Sebelumnya, masyarakat jejaring sosial membahas kemunculan video shalat tarawih 20 rakaat dengan witir 3 rakaat dalam waktu 10 menit yang diselenggarakan Pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Blitar.

Pelaksanaan shalat tarawih kilat diakui berlangsung secara turun-temurun mulai pesantren tersebut didirikan oleh KH Abdul Ghofur sekitar 160 tahun lalu.

“Saya ini hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh para sesepuh. Kami tidak berani mengubahnya,” kata KH Diya’uddin Az-Zamzami, salah seorang pengasuh pesantren Mambaul Hikam.

Diya’ yang juga anggota Jamiyah Ahlith thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyah (Jatman) itu, shalat secepat itu bisa dilakukan karena sang imam tarawih hanya mengerjakan doa yang wajib-wajib misalnya niat, takbirotul ihram, baca Fatihah plus ayat pendek Al-Qur’an hingga salam.

“Doa ruku’, kita singkat cukup ‘Subhanallah. Lainnya hanya Allah-Allah saja.Tahiyat akhir juga hanya sampai bacaan shalawat untuk nabi Muhammad kemudian salam,” tandas Diya’ yang juga salah seorang Mursyid Thoriqoh Naqshobandiyah Kholidiyah.

klik videonya disini.

Salah seorang praktisi Islam (Ulama) Abah Pitung menanggapi, “Memperhatikan video yang beredar ini, ternyata sholat Taraweh berjamaah di Ponpes Mamba’ul Hikam, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada setiap rakaat memang membaca surat Al Fatihah secara sangat cepat tergesa-gesa sehingga bacaannya tidak bisa dimaknai, lalu tidak membaca bacaan rukuk, bacaan duduk diantara dua sujud, bacaan sujud dan juga tidak sempat membaca bacaan ketika I’tidal.

Kesimpulannya dari pengamatan video, sholat Tarawih berjamaah di Ponpes Mamba’ul Hikam, Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur sesungguhnya adalah tidak syah, serta tidak sesuai dengan rukun sholat sebagaimana lazimnya rutin dilakukan oleh ummat Islam dunia. Dalam hal ini KH. Abdul Ghofur selaku pelopornya serta para Ustadz penerusnya di Ponpes itu, harus bertanggung jawab kepada Allah SWT., serta kepada ummat Islam Indonesia. Penulis berharap MUI serta MUSPIDA didaerah itu (Kota Blitar) segera melakukan teguran dan peringatan hari ini juga agar mereka sadar akan kesalahan dalam sholat yang telah mereka lakukan. Penulis memandang perbuatan sholat Taraweh berjamaah ini, sudah masuk dalam pendegradasian serta perlemahan dalam ajaran agama Islam pada umumnya”.

Komentar Anda

Most Popular

To Top