All for Joomla All for Webmasters
Featured

Hamsad Rangkuti, Sastrawan Asal Sumut Sedang Kritis

baguskali.com

Kabar sedih datang dari Hamsad Rangkuti, salah seorang cerpenis kawakan Indonesia, yang kini dalam kondisi kritis dan dirawat di Rumah Sakit Sembiring, Delitua, Deliserdang, Sumatera Utara.

Seniman yang meraih banyak penghargaan itu dalam kondisi tidak sadarkan diri. Di rumah sakit, dia dijaga oleh istri tercinta Nurwindasari dan putra keduanya bernama Girindra Rangkuti yang datang dari Jakarta.

Beberapa penghargaan yang pernah diraih Hamsad adalah Penghargaan Insan Seni Indonesia Mal Taman Anggrek & Musicafe (1999), Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000), Penghargaan Khusus Kompas atas kesetiaan dalam penulisan cerpen (2001), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001), Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka (2001) untuk “Umur Panjang untuk Tuan Joyokoroyo” dan Senyum “Seorang Jenderal pada 17 Agustus” juga SEA Write Award (2008).

Ironisnya, sesuai pengakuan Nurwindasari, para seniman, sastrawan, budayawan Medan, terlebih pihak-pihak lain, sama sekali tidak tahu bahwa sastrawan besar itu sudah berada di RS Sembiring sejak 13 Juni 2016.

“Habis bagaimana, saya tidak kenal siapa-siapa. Saya tahu ada temannya Herman KS (sastrawan Medan, red), tapi beliau itu sudah meninggal. Wilayah ini juga tidak saya kenal,” ujar Nur kepada kru harian Sumut Pos Grup (grup pojoksumut.com), yang menjenguk sastrawan itu pada Jumat (24/6/2016).

Kabar mengejutkan itu justru datang dari Riau, dari sastrawan Rida K Liamsi. Rida mengetahui kabar sakitnya Hamsad lewat pesan singkat dari Nurwindasari, yang kemudian diteruskan kepada kru Sumut Pos.

“Benar, saya kabari para sahabat yang nomornya masih ada di HP. Termasuk Pak Rida, saya ingat beliau itu teman yang selalu menyokong Bapak (Hamsad, red),” ujarnya sembari memperbaiki selang jarum infus yang semraut karena Hamsad menggeliat tak beraturan.

Hamsad dirawat di Ruang J 17 Lantai 3, dengan fasilitas seadanya. Ruangan berukuran 2,5 x 4 meter itu terasa sangat sempit sebab ruang yang tersisa digunakan sebagai hamparan tikar tempat tidur oleh Nurwindasari dan Girindra. Kondisinya sangat memprihatinkan, kontras dengan nama besar Hamsad Rangkuti.

Nurwindasari mengisahkan, mereka sudah berada di Sumatera Utara selama 3 bulan, terhitung sejak 13 Maret 2016. Beberapa tahun belakangan, Hamsad memang sudah sakit-sakitan, bahkan sudah menjalani operasi jantung bypass tahun 2012 lalu.

Nurwindasari membawa suaminya ke Sumut atas permintaan Hamsad yang belakangan sering mengatakan rindu pada kampung, terutama Taman Sri Deli. Taman Sri Deli dulu menyerupai taman kota, dan sering menjadi tempat kongkow-kongkow seniman.

Setiba di Sumut, mereka bertolak ke Tanjungbalai, Asahan. Kota pelabuhan ini merupakan kota tempat Hamsad menjalani masa-masa riang ketika SMP. Sebuah peristiwa mengharukan terjadi di Kota Kerang ini. Saat sang istri membawa Hamsad berjalan-jalan ke pantai di atas kursi roda, Hamsad menangis menatap perahu-perahu yang sandar dan berlayar di pelabuhan itu.

“Saya ingat main-main di situ, sama Martin,” ujar Hamsad pada istrinya tentang tangisnya.

Martin yang disebut Hamsad itu adalah kawan sepermainannya di masa remaja, yang kini terkenal: Martin Aleida, juga sastrawan kenamaan Indonesia, yang masih produktif menulis cerpen di usia senja.

Selama berada di Tanjungbalai, mereka menumpang di rumah sanak saudara. Lalu bergerak lagi ke Kisaran, Asahan. Hamsad sepertinya ingin memgunjungi lagi masa kanak-kanak dan remajanya yang penuh kisah. Tapi di Kisaran, tak ada lagi hutan rambung itu, tidak ada lagi pusat perbelanjaan berlantai dua tempat Hamsad memulai pengembaraan imajinasinya sebagai anak muda cikal pengarang.

Setelah hampir dua bulan berada di dua kota masa kecil itu, mereka kembali ke Medan. Dan Nurwindasari begitu tabah medampinginya.

“Saya ikuti permintaan Bapak. Dia minta ke Tanjungbalai, saya bawa ke sana. Dia minta ke Kisaran, kita ke Kisaran. Dia minta ke Medan, saya bawa ke Medan. Supir bus di sini baik-baik, masih mau bantu Bapak meski pakai kursi roda. Kalau di Jakarta, waduh….” katanya.

Di Medan, mereka juga menumpang di rumah keluarga. “Gimana ya, namanya juga orang berkunjung karena rindu kampung halaman. Semacam itu,” ujar Nurwindasari.

Beberapa hari di Medan, tepatnya tanggal 13 Juni, Hamsad yang memang sudah sakit itu diberi minum teh manis dan makan sepotong roti. Tiba-tiba ia muntah dan pingsan, lalu dilarikan ke rumah sakit. Sejak itu, Hamsad tak siuman lagi.

Beberapa hari dirawat di ruang ICU, lalu dipindahkan ke ruang rawat inap, sebab kondisinya agak membaik meski belum sadarkan diri. Anak-anak sudah resah dan ingin terbang ke Medan menjenguk ayah mereka, tapi Nurwindasari menyarankan agar sabar dulu menunggu perkembangan.

Apalagi, dua cucunya dari anak pertama dan si bungsu, masih ada yang berusia hitungan bulan. Sangat tidak nyaman dibawa berpergian jauh. Sambil menangis, Nur mengisahkan, setelah di Medan, ia belum sempat membawa Hamsad ke Taman Sri Deli, juga ke Taman Budaya Sumut, seperti diimpikannya itu. “Saya tidak tahu bagaimana ke sana, saya tak kenal teman Bapak di sini, tak tau minta tolong pada siapa,” ujarnya.

Di tengah deraan kesedihan itu, luka lama terkuak. Nur bercerita lagi tentang peristiwa beberapa tahun silam, ketika Pemerintah Kota Depok memgambil tanah mereka secara sepihak, dan membangun tempat pembuangan sampah di lahan berukuran 5 x 12 meter itu, hanya berjarak beberapa meter dari rumah. Mereka telah melakukan ‘perlawanan’, tapi Pemko Depok bersikeras menegakkan kebijakannya.

“Kita malah dituduh melawan pemerintah. Melawan bagaimana, kita hanya inginkan kebenaran. Bapak ini dipakai pemerintah kemana-mana, tapi begitu akhirnya. Kejadian itu 2009, padahal 2008 bapak baru dapat penghargaan SEA Writes Award di Thailand. Jadi bagaimana?” katanya.

Sejak itulah Hamsad mulai sakit-sakitan. Dan terus berlanjut hingga saat ini. Ia sangat terpukul atas peristiwa itu. Mereka tak betah lagi tinggal di rumah yang dibangun dengan jerih payah sebagai seorang pengarang. “Bau menyengat, penuh belatung, tikus, kecoak, gimana hidup seperti itu?”

Sejak itu pula Hamsad dan istri mulai sering-sering bepergian dan tinggal bersama keluarga yang satu ke keluarga lain, tapi setiap pulang ke rumah, sampah-sampah itu kembali menghantui. Terakhir, Hamsad berulang-ulang mengatakan rindu kampung dan Taman Sri Deli, dan akhirnya terkapar di RS Sembiring.

“Ini tempatnya bermain masa muda. Tanjungbalai dan Kisaran itu tempat masa kecil dan remaja. Medan sebenarnya hanya tempat dia transit menuju Jakarta dan menjalani takdirnya sebagai pengarang,” ujar Nur.
Ketika ditanya apakah tidak ada niat untuk pindah atau menetap di Medan, Nurwindasari mengatakan itu sesungguhnya tergantung Hamsad. Bahkan jadwal kepulangan mereka seyogianya ke Jakarta, juga menunggu keputusan Hamsad.

“Kalau dia bilang pulang ke Jakarta, kita pulang,” ujarnya.

Perbincangan dengan Nurwindasari terhenti karena Hamsad bergerak, menggeliat, mengorok, atau mencoba membuka matanya. Sang istri mendekatkan diri ke wajah Hamsad, mencium keningnya dan mencoba membisikkan sesuatu, tapi tak ada respon.

“Begitu, sepertinya ia mencoba, tapi syarafnya tak bekerja. Kemarin sempat diikat, karena lasak dan berusaha melepas jarum infus, sampai darah berceceran,” ujarnya.

Komentar Anda

Most Popular

To Top