All for Joomla All for Webmasters
Featured

Kenang Fir’aun, Baca Ahok

baguskali.com

Bacalah atas nama Tuhanmu, berbagai cerita tentang Ahok, saudaraku. Jangan-jangan, semua orang dianggap goblok oleh Ahok. Tak terkecuali kepada para wartawan, Ahok suka menganggap goblok. Sejak kamis kemarin, 16 Juni 2016, Ahok melarang seorang wartawan media online arah.com, bernama Helmy, masuk ke kantornya dan melakukan wawancara.

“Saya tidak ada kewajiban menjawab pertanyaan Anda. Saya tegaskan itu, bolak-balik ngadu domba. Pokoknya enggak boleh masuk sini lagi, enggak boleh wawancara. Saya tidak pernah takut sama kalian,” ancam Ahok kepada wartawan.

Padahal, Helmy hanya bertanya kepada Ahok, mengenai adanya keterkaitan suap reklamasi dengan aliran uang Rp 30 miliar dari pengembang reklamasi kepada Teman Ahok, melalui Sunny Tanuwidjaja dan Cyrus Network.

Ahok langsung berdalih, isu aliran uang Rp 30 miliar merupakan salah satu upaya untuk menyerangnya dan merusak citranya sebagai pejabat bersih. Ahok lantas berteriak bahwa dirinya merupakan pejabat bersih dan konsisten menyerukan pemberantasan korupsi.

Kemudian, Helmy bertanya, “Berarti tidak ada pejabat yang sehebat Bapak?”

Ahok yakin, dia bersih dan konsisten. Mungkin seputih kertas, atau sesuci mata air. Berarti, kitalah yang kotor, kitalah yang Goblok. Yang boleh hebat hanya Ahok. Yang lainnya pesakitan. Sejujurnya, saya sempat tersirap kepada berbagai sikap Ahok yang selalu merasa dinaungi cahaya kebenaran. Seakan, Ahok ingin menyatakan, dirinya adalah hukum!

Jangan-jangan, hukum yang Ahok inginkan, tidak boleh ada yang berprasangka salah terhadap Ahok. Yang boleh dan paling benar hanya Ahok, lainnya salah. Semua kesalahan Ahok, tidak boleh disebut sebagai dosa. Sebagaimana dulu, Fir’aun membuat titah tak terbantah, sehingga semua perkataannya sebagai raja Mesir yang Agung adalah Maha Kebenaran. Segala yang diinginkan Fir’aun harus terlaksana, harus tersedia.

Helmy sang wartawan Arah.com telah dicemooh dan diusir, sebagaimana Musa dan Bani Israil juga diusir dan diburu oleh Fir’aun. Sehingga, kawan-kawan wartawan yang solider kepada Helmy, juga merasa ikut terusir dari Balaikota.

Sebagaimana rombongan Bani Israil yang terusir dari tanah kelahirannya, semua wartawan yang bertugas di Balai Kota DKI Jakarta juga berbondong-bondong tidak mau menghadiri acara buka puasa bersama dengan Ahok. Padahal, Ahok sudah mengagendakan acara tersebut di rumah dinasnya di Taman Suropati 7, 16 Juni 2016 lalu.

Hingga azan Magrib berkumandang, tak satu pun wartawan yang berangkat ke sana. Saat salah satu ajudan Ahok mendatangi ruangan pers, mencari tahu apakah wartawan akan hadir di acara tersebut, para wartawan menjawab dengan pasti tidak akan hadir pada acara tersebut. Untuk pertama kalinya, Wartawan boikot Ahok! Sebentar lagi, Jaya Suprana akan mencatatkan peristiwa ini dalam Rekor MURI.

Bisa kita bayangkan suasana ruang tamu Ahok begitu mencekam. Para ajudan dan pegawai Gubernuran hanya bisa diam dan menelan ludah. Ratusan piring-gelas berisi hidangan lezat dan segar yang telah disiapkan bagi Helmy dan kawan-kawan wartawan, teronggok tanpa tersentuh. Lalu, perlahan-lahan semakin dingin, semakin basi. Bagi Ahok, malam jumat kemarin begitu pekat dengan khianat!

Apakah Ahok akan semakin murka kepada wartawan? Mereka terlalu berani dengan memboikot Sang Pemimpin yang merasa benar dan suci! Yang menjadi pertanyaan, kalau para wartawan meneruskan boikot mereka, apa tidak akan sangat menyedihkan bagi para teman Ahok? Dahulu, ketika Fir’aun murka kepada Musa dan Bani Israil, kaum itu diburu dan hendak dibasmi oleh Fir’aun, terus dikejar hingga laut merah tanpa ampun.

Andaikan tak ada lagi berita tentang Ahok yang menghiasi seluruh media massa, apa kata dunia? Betapa akan dianggap gobloknya para pemimpin redaksi media. Bagaimanapun, Ahok selalu ingin, masyarakat mengetahui segala gerak geriknya, segala ucapan dan titahnya.

Betapa sepi media massa dan media social kita dari kalimat Ahok berupa “T**k”, “Harusnya (tim angket) panggil nenek gue dong”, “Bajingan”, “Bego”, dan “Brengsek”, dan lain sebagainya. Padahal, semua pengagum Ahok sering kangen dengan berbagai kalimat itu.
Niscaya, tidak boleh ada yang membantah Ahok sebagai kebenaran hukum! Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang membuka indikasi pelanggaran hukum pada kasus Rumah Sakit Sumber Waras, harus salah. Seluruh warga Kalijodo, tanpa kecuali, harus minggat. Warga Luar Batang harus enyah dari tanah kelahirannya. Walikota Jakarta Utara yang lama harus salah. Sebaiknya, misalnya nanti terbukti, ada aliran dana illegal ke rekening teman Ahok, tidak akan boleh itu dimasukkan dalam ranah pidana. Ahok tidak boleh salah, Bro. Ahok tidak boleh dipidana dan masuk penjara!

Saya hanya ingat, pada masa Fir’aun, ketika Fir’aun menjadikan dirinya sebagai hukum kebenaran, maka berbagai bencana datang silih berganti. Tuhan pun membuat musim kemarau yang panjang, Sungai Nil menjadi kering, tanaman tidak tumbuh. Pengikut Firaun tetap tidak mau beriman. Mereka beranggapan bahwa bencana tersebut disebabkan oleh Musa. Akhirnya, Tuhan menurunkan hujan setelah Musa berdoa. Dengan demikian, tanaman dapat tumbuh lagi. Tapi, Firaun dan pengikutnya merasa hal itu adalah hasil usaha dari Fir’aun.

Kemudian, Tuhan menurunkan topan yang dahsyat. Tanaman pun rusak. Setelah taufan, maka Fir’aun dan pengikutnya diserbu belalang, kutu, katak, dan darah yang memerahkan seluruh sungai. Tapi, hingga menjelang ajalnya, Fir’aun dan pengikutnya tetap menyombongkan diri dan tidak pernah merasa berdosa.
Bisa jadi, segala asumsi dalam tulisan di atas, salah semua. Jangan-jangan, hidup Ahok itu penuh akting pura-pura dan drama. Jangan-jangan, alasannya mengusir wartawan, karena Ahok itu minder, lalu suka menyepi dan menyendiri. Jangan-jangan, meskipun tidak Islam, tidak sholat, tidak puasa, tidak pernah Tarawih, tapi Ahok pura-pura menyerang agama, melarang jilbab, dan pura-pura berbuat berbagai dosa.

Kemungkinan ke dua, seluruh kepura-puraan Ahok, karena ia memang seseorang yang suka menyakiti diri sendiri. Dalam gejala psikologi, semacam masokhis. Jangan-jangan, Ahok suka merusak dirinya sendiri, berusaha membuat orang membencinya, bahkan sengaja berupaya membuat banyak orang memusuhinya. Jangan-jangan, ia sangat menikmati ketersiksaan.

Entahlah. Yang jelas, betapa salah dan dosa kita semua telah membaca Ahok dan membayangkan kisah Fir’aun. Tapi, untunglah, pintu pengampunan dan kesalahan di bulan Ramadhan ini, dibuka selebar-lebarnya. Kita masih bisa memohon ampun kepada Allah dan bertaubat. Hanya kepada Allah. Yang jelas, bukan kepada Ahok.

Komentar Anda

Most Popular

To Top