All for Joomla All for Webmasters
Inspirasi

Kisah Inspirasi: Si Buta Yang Membuatku Melihat

baguskali.com

Usiaku belumlah tiga puluh tahun ketika istriku melahirkan anak pertamaku, aku tidak pernah memperhatikan istriku, setiap malam aku habiskan waktuku bersama kawan-kawanku; begadang sampai pagi. Setiap malam kami habiskan waktu dengan tawa dan banyolan2 tdk berguna.

Aku ingat suatu malam aku berlaku usil kepada seorang buta yang sedang berjalan di pasar, aku menaruh kakiku di depannya lalu ia tersandung dan jatuh, keusilanku itu menjadi bahan tertawaan yang memenuhi pasar.

Seperti biasanya aku telat pulang ke rumah, aku melihat istriku menunggu, tampak keletihan di wajahnya, dengan air mata yang meleleh dia berkata ‘Rasyid..! Aku lelah sekali, sepertinya waktu melahirkan sudah hampir tiba.’

Aku baru sadar bahwa kehamilan istriku telah mencapai bulan kesembilan, aku membawanya ke Rumah Sakit. Istriku berperang melawat rasa sakit, selang beberapa jam kemudian lahirlah anakku yang diberi nama ‘Salim’.

Ketika aku akan melihat anakku, aku diminta untuk menghadap Dokter yang mengurus proses persalinan istriku. Dokter itu memberitahukan kepadaku tetang musibah yang terjadi dan menyuruhku rela terhadap takdir, “Anak anda mengalami cacat yang parah di kedua matanya dan tampaknya dia tidak bisa melihat.”

Aku menundukkan kepalaku, dunia ini terasa runtuh, yang terbersit di ingatanku adalah orang buta yang aku jegal kakinya dan mejadi bahan tertawaan orang-orang di pasar; maha suci Allah, siapa yang menanam pasti akan menuai.

Hari terus berlalu, istriku yang sabar dan percaya terhadap takdir Allah memelihara Salim dengan penuh kasih sayang dan telaten, sedangkan aku tidak terlalu memperhatikan Salim, aku menganggapnya tidak pernah ada di rumah.

Salim semakin hari semakin bertambah besar, ketika usianya menginjak satu tahun, dia mulai belajar berjalan, namun agak sedikit aneh; akhirnya kami tahu ternyata dia juga pincang, dadaku makin bertambah sesak.

Waktu terus berlalu, istriku telah melahirkan anakku yang kedua ‘Umar,’ dan yang ketiga ‘Khalid.’

Seiring bertambah usia Salim dan kedua saudaranya, sementara aku belum berubah, aku tidak suka berdiam di rumah, hari-hari kulalui bersama kawan-kawanku, istriku tidak pernah putus asa meluruskanku, dia senantiasa berdo’a agar aku mendapatkan hidayah, dia tidak pernah marah melihat kelakuan burukku, akan tetapi dia sering terlihat sedih melihatku menyia-nyiakan Salim dan lebih peduli terhadap kedua adiknya.

Istriku menyekolahkan Salim ke salah satu sekolah khusus orang cacat (SLB).

Pada suatu hari Jum’at aku terbangun pada jam sebelas siang, hari masih telalu pagi bagiku, aku diundang ke sebuah resepsi, aku mandi, ganti baju, memakai parfum dan siap pergi. Aku melewati ruang tamu, aku terhenti ketika melihat Salim menangis dengan keras, ini pertama kali aku merespon tangisan salim setelah kurang lebih sepuluh tahun aku tidak memperdulikannya! Aku berusaha pura-pura tidak tahu tetapi tidak bisa, aku mendekatinya, “Salim kenapa kamu menangis?” tanyaku.

Ketika mendengar suaraku, dia berhenti menangis dan meraba-raba sekelilingnya. Dia berusaha menjauh dariku seakan-akan dia berkata kepadaku, “Sekarang kamu peduli kepadaku, ke mana kamu selama sepuluh tahun ini?”

Aku membuntuti masuk ke kamarnya, awalnya dia menolak memberitahukan kepadaku kenapa dia menangis, aku berusaha berlaku lembut kepadanya, akhirnya Salim mau juga mejelaskan kepadaku mengapa dia menangis. Salim mengatakan bahwa hari ini Umar terlambat datang untuk mengantarkannya pergi ke Masjid, dan hari ini adalah hari Jum’at; dia khawatir tidak mendapatkan tempat di barisan pertama, aku mulai memandangi air mata yang jatuh dari kedua matanya yang buta dan aku benar-benar terguncang saat itu!

Aku tidak mampu menguasai diriku untuk mendengarkan sisa kalimatnya, aku meletakkan tanganku di mulutnya, aku lupa teman-temanku, aku lupa tentang undangan resepsi dan aku berkata, “Salim jangan sedih, tahukah kamu siapa yang akan pergi bersamamu ke masjid hari ini?”

“Sudah pasti Umar, akan tetapi dia telat hari ini,” ujar Salim dengan sedih.

“Tidak, aku yang akan pergi bersamamu,” hiburku. Salim kaget tidak percaya dia mengira aku mengejeknya lalu dia menangis lagi. Kuusap air matanya dengan tanganku. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil akan tetapi dia menolaknya, “Masjidnya dekat, aku ingin jalan kaki ke sana.” Aku berjalan di sisinya, aku merasa betapa kecilnya diriku dan betapa besarnya dosaku, aku tak ingat lagi kapan aku terakhir masuk ke masjid, aku merasa takut dan menyesali apa yang aku lalaikan beberapa tahun ini.

Hari itu masjid penuh dengan jamaah, akan tetapi aku heran melihat ada tempat kosong di barisan pertama yang khusus disiapkan untuk Salim.

Setelah shalat Jum’at selesai, Salim meminta mushaf Al-Qur’an kepadaku, aku merasa aneh bagaimana dia akan membaca padahal dia buta? takut perasaannya terluka aku mengambilkan mushaf untuknya. Dia memintaku membukakan surah Al-Kahfi, aku mulai membolak-balik mushaf sambil sesekali melihat daftar isi, sampai aku menemukannya dan meletakkan mushaf di depannya. Dia mulai membaca surah Al-Kahfi dengan mata terpejam.

Yaa..! Allaah..! dia hafal surah Al-Kahfi dengan lengkap, aku merasa malu, seluruh sendi-sendiku serasa bergetar, aku berdo’a kepada Allah Ta’ala; semoga Dia mengampuniku dan memberiku hidayah, aku tidak mampu mengusai diriku, aku menangis seperti anak kecil, aku mencoba menyembunyikan tangisku tetapi tidak bisa; malah aku menjadi terisak-isak, aku tidak sadar, sampai tangan-tangan kecil menyentuh wajahku dan mengusap air mataku, dia adalah Salim anakku. Aku memeluknya dan memandangnya, hatiku bergumam, “Bukan kamu yang buta, nak, sebaliknya akulah yang buta, tatkala aku terlena mengikuti kawanku yang menjerumuskan aku ke Neraka.”

Kami pulang ke rumah, Istriku gelisah memikirkan Salim, tetapi kegelisahannya itu berganti dengan air mata bahagia ketika dia tahu aku shalat Jum’at bersama Salim.

Sejak saat itu aku tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah di masjid, aku meninggalkan kawan-kawan bajinganku, dan sekarang aku mempunyai banyak teman baik yang aku kenal di masjid, aku mulai merasakan manisnya iman bersama mereka. Aku selalu membasahi lidahku dengan zikir, dengan pengharapan semoga Allah mengampuni dosa-dosaku selama ini, aku bertambah dekat dengan keluargaku, senyum tidak pernah lepas dari keelokan wajah anakku Salim, siapa yang menyangka bahwa dia memiliki dunia dengan segala isinya, aku memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman-temanku di masjid bertekad pergi ke salah satu daerah yang jauh untuk berdakwah, aku beristikharah kepada Allah dan berunding dengan istriku dan dia sangat senang, tak lupa aku memberitahukan kepada Salim anakku akan hal ini, dan dia memeluk aku dengan lengannya yang kecil, sebagai salam perpisahan.

Aku pergi dari rumah selama tiga bulan setengah, selama itu setiap ada kesempatan; aku selalu menghubungi istri dan anak-anakku untuk mengobati kerinduan terhadap keluargaku, terutama kepada Salim, aku berharap bisa mendengar suaranya, sebab dialah satu-satunya anakku yang tidak berbicara kepadaku sejak kepergianku, tiap kali aku menceriterakan kerinduan terhadap Salim kepada istriku, dia selalu tertawa bahagia, hanya saja kali terakhir aku menelpon istriku, aku tidak mendengar tawa seperti biasanya, suaranya berubah, ketika aku berkata, “Sampaikan salamku kepada Salim,” dia hanya menjawab, “Insya Allah,” dan diam.

Akhirnya aku pulang ke rumah, aku mengetuk pintu dan berharap Salim yang akan membukakan pintu untukku, ternyata bukan Salim melainkan anakku Khalid yang usianya tidak lebih dari empat tahun, dia berteriak “Ayah… Ayah..!”

Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dadaku terasa sesak saat masuk ke dalam rumah aku membaca Ta’awuz, meminta perlindungan kpd Allah, istriku datang menjumpaiku, raut wajahnya tidak seperti biasanya, “Apa yang terjadi?” Tanyaku kemudian, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat. Seketika aku teringat Salim, “Mana Salim?” istriku tidak menjawab dia menundukkan wajahnya dan air mata bercucuran membasahi pipinya, saat bersamaan dengan suara terbata-bata Khalid berkata, “Ayah, Salim telah terbang ke Surga ke sisi Allah!”

Istriku tidak bisa menguasai situasi, dia menangis meratap dan hampir terjatuh ke tanah, akhirnya aku tahu Salim terkena demam dua minggu sebelum kepulanganku, istriku membawanya ke rumah sakit namun tidak tertolong hingga nyawanya melayang.

Aku menyadari bahwa apa yang terjadi adalah ujian Allah, aku harus menerima semua ini, memuji Allah dan aku tidak pernah memuji Allah terhadap kesulitan yang kuhadapi kecuali terhadap kejadian ini. Alangkah sedih hatiku berpisah dengan Salim, masih terasa tangannya mengusap air mataku dan kedua lengannya merangkulku. Salim tidak buta, akulah yang buta saat terlena bersama teman-temanku dan Salim tidak pincang karena dia mampu melalui jalan keimanan, sekarang aku baru sadar bahwa aku menyayanginya melebihi saudara-saudaranya, karena dialah yang menjadi penyebab aku mendapatkan petunjuk.

Dia anak buta yang menuntun ayahnya ke masjid dan mengalahkan setan dalam diriku dengan keikhlasannya.

Yaa Allaah.., terimalah Salim anakku dalam naungan kasih sayang-Mu. Yaa Allaah.. Aku memohon kepada-Mu keteguhan hati sampai mati. Yaa Allaah, kumpulkanlah aku bersamanya di surga-Mu dan ampunilah aku, Engkau Dzat yang Maha Suci.

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang maha pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Wallahua’alam.

Share jika Anda menyukai artikel ini.

Komentar Anda

Most Popular

To Top