All for Joomla All for Webmasters
Internasional

Muslim Rohingya, Dibantai Diperkosa Dan Terusir, Dunia Tak Banyak Berbuat

baguskali.com

Myanmar, Ketika helikopter militer menembaki desa suatu hari November lalu, seorang guru sekolah Rohingya, Rahim, mengatakan kepada istrinya yang sedang hamil untuk membawa tiga putri mereka untuk pergi. Sementara ia sendiri tinggal di dengan ibunya berusia 72 tahun.

Saat fajar, keesokan harinya, tentara mengepung desa dan memasuki desa Rahim. Ia dan ibunya merayap ke sawah. Rahim mengatakan, mereka melihat tentara membakar rumah dan menembak warga yang melarikan diri dari desa.

Saya pikir kami akan mati hari itu,” kata Rahim, yang seperti banyak etnis Rohingya lainnya. “Kami terus mendengar suara tembakan. Saya melihat beberapa orang ditembak mati.”

Di sebuah kamp pengungsi Bangladesh, di mana ribuan etnis Rohingya berlindung, kisah itu dikuatkan oleh empat orang dari desanya.

Serangan terhadap desa Rahim, Dar Gyi Zar, pada 12-13 November, mengklaim puluhan nyawa dibantai. Pembunuhan tersebut menandai dimulainya sebuah serangan militer dua minggu setelahnya, sekitar 10 desa Rohingya di barat laut negara bagian Rakhine ditemukan bernasib sama.

Tetua Rohingya memperkirakan sekitar 600 orang tewas. Sebuah laporan PBB dari Februari mengatakan kemungkinan korban berjumlah ratusan. Citra satelit menunjukkan setidaknya 1.500 rumah hancur, sementara Human Rights Watch menyatakan banyak perempuan diperkosa, kata saksi mata dan relawan. Dokter di Bangladesh kepada Reuters mengatakan banyak menangani korban wanita yang telah diperkosa.

Itu putaran terakhir pertumpahan darah antara etnik di Myanmar dengan mayoritas Buddhis, di mana sekitar satu juta Muslim Rohingya yang terpinggirkan, tinggal di kamp-kamp, ditolak akses layanan kesehatan dan pendidikan.

Sejak tahun 2011, membuka sumbat ketegangan etnis dan agama yang lama terjadi antara Buddha Rakhine dan Rohingya. Bentrokan antara dua komunitas pada tahun 2012 menewaskan sedikitnya 192 orang dan menciptakan pengungsian 140.000 orang yang sebagian besar etnis Rohingya.

Konflik terbaru dari kekerasan ini, membuat sekitar 75.000 etnis Rohingya melintasi perbatasan ke Bangladesh, kata PBB. Pemerintah Myanmar mengaku telah kebobolan, beberapa tentara disinyalir telah melakukan kejahatan tetapi menolak tuduhan “Pembersihan Etnis.”

Banyak berharap Suu Kyi, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, akan membawa era baru toleransi setelah lima dekade kekuasaan militer. Namun para jenderal tetap mengendalikan bagian penting dari pemerintah, ia kini menghadapi tuduhan gagal menangani pelanggaran hak asasi manusia.

Penasihat Keamanan Nasional Thaung Tun mengatakan beberapa individu mungkin telah melakukan pelanggaran “dalam panasnya konfrontasi.” Tapi dia menekankan pemerintah tidak menyetujui perilaku tersebut. Sayangnya, Suu Kyi tidak menanggapi pertanyaan rinci dari Reuters tentang peristiwa di Rakhine.

Setelah bertahun-tahun penganiayaan, Rohingya telah mulai melawan. Sebuah kelompok militan yang disebut dengan Harakah al-Yaqin, dibentuk oleh etnis Rohingya yang tinggal di Arab Saudi setelah 2012, menurut International Crisis Group. Pemimpinnya, Ata Ullah, mengatakan ratusan orang Rohingya muda telah bergabung dengan jajaran kelompok yang kini ingin dikenal sebagai Arakan Rohingya Salvation Army. Pemerintah Myanmar memperkirakan mereka memiliki sekitar 400 pejuang.

Pada 2012, mereka membunuh kami dan kami mengerti pada waktu itu, mereka tidak akan memberi kita hak-hak kami,” kata Ata Ullah, berbicara dengan video link dari sebuah lokasi yang dirahasiakan di Myanmar.

Sebelum fajar pada 9 Oktober, militan Rohingya melancarkan serangan terhadap polisi perbatasan. Tentara mulai mencoba untuk menangkap para pemberontak. Selama sebulan, berusaha untuk menekan penduduk desa untuk menyerah pemberontak, menurut tetua Rohingya dan warga desa.

Sumber : arah.com

Komentar Anda

Most Popular

To Top