All for Joomla All for Webmasters
Seni Budaya

Monolog “Orang Saja” Realita Kehidupan Kekinian Dalam Panggung Teater Siklus Medan

baguskali.com

“Di mana ini?”

“Aku di mana?”

“Apa yang terjadi padaku?”

“Mengapa aku tidak bisa mengingat apa-apa?”

“Apa yang telah mereka lakukan padaku?”

“Oi…….. ada orang di sana?”

“Siapapun itu, bebaskan aku!”

“Hei kalian yang ada di luar.

“Kalian ingin menakuti ya?”

“Apa kalian tidak bisa sehari saja tidak menggangguku?”

“Apa kalian tidak lelah?”

“Yang di dalam saja belum selesai, ditambah lagi sama yang di luar.”

Cuplikan dialog dalam Lakon Monolog Orang Saja karya Ronald Tarakindo Rajagukguk oleh Teater Siklus Medan.

Siklus Teater Ind yang bermetamorfosa menjadi Teater Siklus Medan kembali menyuguhkan pertunjukan yang bisa dijadikan referensi tontonan di akhir tahun 2017 ini.

Proses kreatif yang sudah berjalan hampir tiga bulan belakangan ini, digarap oleh Sukisno atau yang biasa dikenal dengan Bang Sukis. Kali ini pilihan naskah jatuh kepada karya Ronald Tarakindo Rajagukguk dengan judul Orang Saja. Cerita yang berjalan mundur ini akan disajikan dengan konsep tidak realis dan tidak juga absurd, lebih tepatnya surealis. Hanya diberikan waktu dan kursi yang terbatas buat penontonnya. Pertunjukan akan ditampilkan dua sesi, sesi 1 adalah 15.30 WIB dan sesi 2 adalah 20.00 WIB. Hanya satu hari saja, Sabtu, 4 November 2017, di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. Selang tiga hari kemudian akan kembali dipentaskan di Panggung Tok Tan, Pekanbaru, Riau.

Cerita kali ini berakar kepada sifat manusia yang kebanyakan lupa bahwasanya mereka sudah diberikan kebahagiaan yang melimpah. Namun, karena sifat mereka yang tak pernah puas menjadikan mereka manusia-manusia yang lupa bersyukur. Proses penuh gairah. Mungkin inilah kata yang pas dalam proses latihan monolog “Orang Saja” tiga bulan belakangan ini. Kami harus bias. Kata-kata ini pula yang selalu bergema dari kaki tangan “Orang Saja” sebagai celotehan motivasi personal. Sempat kewalahan, dengan seabrek penafsiran dan tanggapan terhadap tokoh yang akan diperankan. Namun, dari pengamatan indra yang kemudian melibatkan pikiran sehingga melahirkan pandangan dari aktor dan sutradara beserta kaki tangannya terhadap karakter yang akan dimainkan dengan sadar diiringi sikap rasional, emosional, optimis, maupun pesimis, semuanya bersatu membentuk larva yang siap dimuntahkan.

Ketika ada sesuatu yang harus disampaikan, panggung teater adalah sebuah ruang yang bebas untuk mengungkapkan sebuah komunikasi tentang segala hal yang ‘tak terkatakan’. Mengapa teater? Dalam teater, acapkali kita menemukan teks-teks metafora, konsep-konsep yang menjelaskan problematika sosial. Metafora memberikan fasilitas pemikiran yang inovatif kepada kita melalui bahasa yang di dalamnya sarat permainan kata, tempat kita berbagi cerita dalam konteks budaya dan makna. Begitu banyak yang kita lihat dan kita dengar di kehidupan ini, yang tentunya ada yang sesuai dan banyak yang tak sesuai, sehingga menimbulkan protes-protes kecil yang mau tidak mau harus didengarkan dan disikapi.

Panggung teater merupakan salah satu alternatif yang bisa diajak berdialog untuk menyampaikan ekspresi menangis, tertawa, berteriak, dan marah. Oleh karena itu, bahasa teater bisa juga disandingkan untuk suatu pengobatan jiwa, terlebih lagi pada dunia pendidikan. Disadari atau tidak teater ada sejak kelahiran kita dan menjadi milik manusia secara global. Belajar dari pengalaman hidup di negeri yang memiliki ragam budaya, tampak jelas bahwa setiap individu atau mungkin komunitas yang memiliki  energi maupun emosinya lebur di negeri ini. Tidak akan mudah lari begitu saja dari dunia panggung yang kita sebutkan tadi. Langsung maupun tidak langsung, minimal sebagai penikmat, karena panggung juga butuh penonton. Pada wilayah ini sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia secara massal adalah suatu potret masa depan. Sebuah negeri yang begitu sarat dengan potensi teaternya. Hal yang terpenting bahwasanya teater perlu mendapat perhatian untuk menjaga keberlangsungannya atas geliat yang ada.  Meski pada hakekat yang lain, teater tidak pernah memelas dan meminta tubuh serta jiwa kita bersetubuh dengan dirinya.

Dalam wilayah kesadaran yang lain kami juga menyadari dan meyakininya sebagai sebuah peristiwa, atau mungkin juga sebuah upacara penyadaran dalam bentuk yang lain. Sedikit telah kami singgung di atas, proses tengah berjalan. Didorong oleh keinginan untuk lebih konsisten dalam kreatifitas, maka kami persembahkan sebuah garapan yang mudah-mudahan membawa nilai yang positif. Dalam ruang fikir yang lain kami juga menyadari dan meyakininya sebagai sebuah peristiwa atau sebuah ritual penyadaran dalam bentuk lain. Untuk itu kami  pertegas lagi, tujuan terdepan kami adalah tetap akan memperbesar kuantitas dan kualitas dialog yang lebih terbuka lagi, yakni dengan pergelaran teater yang kami persembahkan kehadapan seluruh penonton kami. Tentunya dengan nilai-nilai humaniora yang terdapat di dalamnya. Keyakinan lain adalah kami sangat percaya kebijaksanaan anda semua akan lebih banyak lagi menunjukkan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah pertunjukan teater.

Terima kasih atas dukungan serta respon positif terhadap proses kerja kami kepada khalayak yang dengan senang hati merespon dan memberi energi lain atas kerja yang sedang kami bangun, meski sekecil apapun sebuah masukan tentunya akan memberikan kontribusi semangat positif dalam membangun sebuah peristiwa dan dialog di antara kita semua. Mungkin saja anda adalah salah satu penonton kami yang duduk di antara pengunjung lainnya atau sekedar membaca informasi dari poster dan baliho yang kami pajang. Kami juga berharap peristiwa teater ini sebagai kebutuhan lain selain makan dan minum.

Komentar Anda

Most Popular

To Top