All for Joomla All for Webmasters
Olahraga

Memilukan, Perjuangan Lifter Cilik Menuju Pentas Dunia, Dari Menjual Kambing Hingga mengangkut Air Sungai

baguskali.com

Demi merintis jalan menjadi bintang angkat besi dunia, lifter-lifter cilik dari pelosok negeri ini rela mengorbankan waktu bermainnya untuk berlatih keras. Mereka pun tak mengeluhkan peralatan yang seadanya. Kegigihan itulah yang mencetak lifter handal.

Lifter-lifter cilik itu kini sedang mengasah mental berlomba pada Kejuaraan Nasional Terbuka Satria Remaja II di Yogyakarta, 1-6 November. Para lifter belia yang sebagian besar dari keluarga miskin itu datang dari sejumlah daerah dengan beragam siasat.

”Ayah saya terpaksa menjual seekor kambing agar punya biaya memberangkatkan saya ke Yogyakarta. Kata ayah, saya harus tampil bagus,” kata Muhammad Rizki (15), lifter City Club dari Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/11).

Uang hasil penjualan kambing itu, antara lain, untuk biaya menginap di Yogyakarta Rp 450.000 selama tiga hari kejuaraan. Bagi orangtua Rizki yang bekerja sebagai buruh tani, biaya itu tergolong besar dan harus dibarter dengan ternak. Rizki tertarik berlatih angkat besi karena terbawa oleh teman-temannya yang lebih dulu berlatih. Pelajar kelas III SMP Darmayanti, Cimaung, itu dibina oleh mantan lifter nasional, Siti Aisah (48). Latihan enam kali dalam sepekan dilakukan tanpa dipungut biaya. Namun, perlengkapan berlatih, seperti singlet, sabuk, Terbuka Angkat Besi Satria Remaja II melakukan pemanasan di GOR Pemuda Klebengan, Yogyakarta, Kamis (2/11). Sebanyak 144 atlet dari 14 provinsi dan 33 klub berpartisipasi dalam ajang ini.

Dibiarkan tenggelam di pesisir Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku, seperti yang terpantau Kamis (2/11). Tumpahan oli dari kapal itu mencemari Teluk Ambon yang merupakan ikon pariwisata Kota Ambon. plester, dan deker, dipenuhi sendiri. Rizki menyiasatinya dengan bekerja membantu tetangga mengangkut barang atau mengambil air di sungai sepulang sekolah. Dalam sehari dia bisa mengantongi uang Rp 2.000-Rp 10.000. Uang dikumpulkan untuk membeli perlengkapan latihan. Siti Aisah mengatakan, anak-anak yang berlatih di City Club kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu di Cimaung. Orangtua mereka bekerja sebagai buruh tani, kuli angkut di pasar, atau tukang cuci. Pendapatan mereka hanya sekitar Rp 20.000 per hari. Karena keterbatasan ekonomi itu, banyak anak yang putus sekolah. Kebanyakan anak perempuan menikah begitu lulus SD atau SMP. Sementara anak laki-laki banyak yang terjerat narkoba. Terdorong keinginan membuat anak-anak ini mempunyai harapan hidup yang lebih baik, Siti Aisah mendirikan City Club.

”Saya berpikir bagaimana dapat menciptakan penerus lifter Sri Wahyuni (peraih perak Olimpiade 2016 kelas 48 kilogram). Saya harap anak-anak ini bisa sukses,” ujar peraih perunggu kelas 48 kg Kejuaraan Dunia 1988 itu.

Fasilitas Minim

Anak-anak yang tampil di Yogyakarta umumnya sudah berlatih sejak usia tujuh atau delapan tahun. Meski bertubuh kecil, mereka memiliki tenaga dan semangat kuat untuk menjadi lifter terbaik. Muhammad Fauzan Bilal (9) mengatakan, keinginan tampil jadi juara dunia membuat dia rela berlatih keras.

”Tantangan terberat itu mengatur waktu. Keinginan bermain ditunda karena harus berlatih,” katanya.

Kemarin, Bilal turun dalam lomba kategori pre-youth (kejuaraan untuk usia 10-13 tahun) kelas 38 kg. Saat berlomba, Bilal memakai kaus, celana pendek, dan sepatu yang biasa dipakai sekolah. Meski tidak juara, Bilal merasa senang dapat menimba pengalaman berlomba. Amel Candra (10) yang berlomba di kategori pre-youth putri kelas 48 kilogram juga semangat menjalani latihan keras. Awalnya, dia berlatih menggunakan kayu, kemudian besi ringan, dan akhirnya menggunakan beban. Dalam kejuaraan, Amel memborong dua medali emas dan satu perak.

”Rasanya bangga. Latihan keras jadi terbayar tuntas,” ujarnya.

Lifter-lifter cilik ini berlatih dengan fasilitas dan sarana-prasarana yang minim. Di City Club, peralatan latihan terbuat dari pipa paralon dan semen cor yang dibuat menyerupai barbel. Satu set peralatan sederhana itu dipakai untuk latihan 20 anak. Saat kemampuan anak-anak meningkat dan jumlah angkatan semakin banyak, tak jarang tetangga protes karena bantingan barbel menggetarkan dinding rumah-rumah warga yang berdempetan.

”Warga marah karena gerakan angkat besi membuat panci dan wajan berjatuhan,” ujar Siti Aisah.

Masalah sarana juga dihadapi Klub Bina Satria di Pacitan, Jawa Timur. Klub ini bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk membuat kegiatan ekstrakurikuler angkat besi sehingga peminatnya banyak. Untuk berlatih, anak-anak memakai peralatan sumbangan Kementerian Pemuda dan Olahraga serta PB Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia. Sekretaris Kemenpora Gatot S Dewa Broto menuturkan, angkat besi perlu mendapat perhatian lebih karena menjadi andalan prestasi Indonesia di Olimpiade dan kejuaraan dunia.

”Selama ini, yang sering menyelamatkan wajah Indonesia dalam persaingan dunia adalah cabang angkat besi,” ujar Gatot.

Sumber: pressreader.com/indonesia/kompas/20171103/281479276679990

Komentar Anda

Most Popular

To Top