All for Joomla All for Webmasters
Bisnis

Baca, Tahun 2020 Banyak yang Sulit Punya Rumah, Ini Alasannya. . .

baguskali.com

Jakarta, Harga properti yang terus melambung membuat masyarakat semakin sulit untuk memiliki hunian. Bahkan banyak generasi milenial diprediksi jadi gelandangan di 2020. Kok bisa?

Rumah123 pada akhir tahun lalu melakukan survei, hasilnya dalam 3 tahun mendatang atau 2020, hanya 5% kaum milenial yang sanggup membeli rumah. Sisanya 95% tak memiliki tempat tinggal.

Menurut data Rumah123, kenaikan harga rumah jauh lebih besar dibanding kenaikan pendapatan pertahunnya. Rata-rata kenaikan properti di Indonesia pertahunnya mencapai 17%, sementara UMR hanya 10% per tahun.

“Bahkan pernah sampai 100% per tahun,” kata Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung.

Survei Rumah123 mengambil contoh, saat ini harga rumah berukuran 70 meter persegi di Sumarecon Bekasi sudah mencapai Rp 1,2 miliar. Sementara untuk ukuran yang sama di Tambun, Bekasi sudah mencapai Rp 600 jutaan.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau rasio harga rumah berbanding pendapatan pertahun, harga rumah yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan (12 kali gaji, bonus dan THR). Jika diambil contoh rumah seharga Rp 600 juta, maka generasi milenial harus memiliki penghasilan per tahun Rp 200 juta atau perbulannya Rp 16 jutaan.

Menurut survei Rumah123, hanya 4% lebih kaum generasi milenial yang memiliki gaji perbulan sebesar itu. Jadi sebenarnya pemasukan generasi milenial saat ini terbilang biasa-biasa saja.

Generasi milenial merupakan mereka yang lahir di sekitar 1980an hingga 1990an. Itu berarti saat ini kaum milenial saat ini berumur sekitar 20an hingga 37 tahun.

Jika saja sekolah sesuai dengan umur hingga S1, maka biasanya generasi milenial mulai bekerja pada usia 23 tahun. Berarti generasi milenial saat ini rata-rata baru bekerja 1 tahun hingga 14 tahun.

Penghasilan rata-rata dari kaum milenial saat ini hanya single digit atau di bawah Rp 10 juta. Sementara kenaikan UMR saat ini rata-rata dibawah 10%.

Untung mengatakan ada 2 faktor mengapa generasi milenial jadi gelandangan, pertama harga rumah yang melambung tinggi, dan kedua penghasilan kaum milenial yang masih rendah.

Namun selain kedua faktor tersebut, ada faktor lainnya yakni kebiasaan atau gaya hidup kaum milenial yang cenderung boros. Mereka terbiasa dengan barang-barang yang selalu up to date, seperti smartphone.

Mereka juga lebih mementingkan liburan atau travelling memenuhi keinginan untuk berswa foto di tempat yang indah, ketimbang memenuhi kebutuhan hidup utamanya seperti membeli rumah.

“Travelling sebenarnya tidak masalah, hanya saja harus tahu prioritasnya. Kalau bisa ditunda kenapa enggak. Travelling bisa ditunda, harga tiket tidak naik tinggi. Tapi kalau beli rumah ditunda, semakin lama semakin tidak mampu,” tuturnya.

Lantaran mengedepankan gaya hidup, generasi milenial cenderung merasa tidak masalah jika harus tinggal di hunian sewa. Padahal tinggal di hunian sewa jauh lebih mahal.

“Kalau yang punya mau jual atau tidak mau perpanjang, berarti harus pindah lagi. Padahal biaya pindahan itu mahal loh,” imbuhnya.

Sumber: detik.com

Komentar Anda

Most Popular